Followers

bqiqdHcLSyDe1e7rIy6MJVhY5drRA6OxKKstSzTb

Gunung Gede Dibuka, Teringat Pendakian 2 Tahun Lalu

Gunung Gede Pengrango Sudah Buka Kembali
Akhirnya, setalah beberapa bulan tutup, tersebar kabar bahwa Gunung Gede akan dibuka kembali. Gunung Gede sudah ditutup dari akhir tahun 2020 tepatnya tanggal 28 Desember 2020 - 31 Januari 2021 dan akhirnya diperpanjang lagi sampai 28 Februari 2021. Penutupan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi cuaca ekstrem serta untuk pemulihan ekosistem di sepanjang jalur pendakian. Tentunya ini menjadi kabar baik untuk sebagian orang yang sudah rindu dengan suasana Gunung Gede. Kabar dibukanya kembali Gunung Gede Pangrango ini pun dibagikan di media sosial Instagram @tn_gedepangrango selaku akun resmi dari BBTN Gunung Gede pangrango.

Mendengar kabar bahwa Gunung Gede Pangrango akan buka kembali pada 5 Maret 2021, aku jadi teringat kenangan 2 tahun lalu saat aku pertama kali mendaki gunung gede bersama kedua temanku. Biar tetap teringat dan juga mengingat kembali, mending ku tulis aja deh di sini.

Pertama kali

Bisa dibilang bahwa Gunung Gede ini adalah salah satu gunung yang letaknya paling dekat dengan tempat tinggalku dibanding gunung-gunung lainnya, masih terletak di daerah Jawa Barat. Tapi pendakian ke Gede bukan pendakian pertamaku. Justru pertama kali mendaki adalah langsung ke Gunung tertinggi di Jawa Barat, dengan ketinggian 3078 Mdpl, yaitu gunung Ciremai. Awalnya aku juga sempat ragu dan takut untuk ikut mendaki ke Ciremai karena waktu itu adalah pendakian pertamaku seumur hidup. Belum ada pengalaman sama sekali. Gunung gede ini adalah pendakian keempat sepanjang sejarah hidupku, dan ini juga pertama kalinya aku ke Gede. Ketika teman-temanku udah beberapa kali naik turun Gunung Gede, aku baru pertama kalinya pada April 2019.

Awal mula pendakian ini terlaksana berkat adanya rencana beberapa bulan lalu, ketika di Papandayan. Biasanya setiap kali mendaki, aku dan kawan-kawanku akan memutuskan untuk ke mana pendakian selanjutnya. Rencananya mendaki akhir tahun 2018, namun di akhir tahun sampai dengan awal tahun baru Gunung Gede menutup jalur pendakiannya. Alasannya setiap tahun tidak jauh beda, untuk pemulihan ekosistem di jalur pendakian. Barulah saat dibuka kembali bulan maret 2019, aku dan beberapa kawanku kembali berencana untuk mendaki ke Gede bulan April.

Booking Online

Pendakian Gunung Gede bisa dibilang adalah pendakian yang selalu ramai. Pernahkah kamu melihat postingan di media sosial saat ramainya pendakian gunung gede? maka dari itu, untuk bisa mendaki ke Gede, panitia mengatur kuota pendaki yang bisa dilakukan setiap harinya. Untuk pendaftaran pendakian nya juga di Gunung Gede sudah dilakukan secara daring

Biasanya kalo mendaki selalu rame-rame bersama temanku, ada kali 10 orang seperti waktu di Cikuray. Seru sih di jalur jadi gak bosen. Namun, pada saat pendakian Gunung Gede, hanya 4 orang saja. Aku, Edwin, Dimas dan Agung. Setelah menentukan tanggal, aku langsung ambil cuti kerja selama seminggu. Dua hari untuk naik gunung, sisanya aku gunakan untuk pulang ke rumah berjumpa dengan keluarga. Karena ketiga temanku sudah mantap untuk ikut mendaki, maka aku melakukan pemesanan tiket secara daring melalui website resmi TNGP (Taman Nasional Gede Pangrango). Biaya yang harus dibayarkan pun cukup terjangkau Rp. 34.000/orang. Itu untuk pendakian di akhir pekan. Kami memilih akhir pekan, karena biar rame aja di sana. Biasanya kalo hari kerja biasa pendakian sepi. Syarat utama untuk bisa mengisi data saat pemesanan tiket adalah kartu identitas seperti KTP. 

Rencana tetaplah rencana. Pada akhirnya saat hari H keberangkatan, salah satu kawanku, Dimas ternyata tidak bisa ikut dikarenakan masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Ya sudahlah, akhirnya kami bertiga yang berangkat. Meluncur dari Bekasi menggunakan sepeda motor dengan muatan tas carrier 65liter, tentunya bukan hal yang mudah. Beberapa kali aku menepi demi untuk membenarkan tasku yang sering berganti posisi karena muatan cukup berat membawa peralatan mendaki dan juga jalanan yang bergelombang juga. Punggung pun lumayan pegel karena menggendong tas selama 2 setengah jam perjalanan. Aku dan Agung berangkat dari Bekasi menuju Cianjur dengan dua motor berbeda. Sore hari setelah pulang kerja di hari Jumat, aku langsung berangkat. Salah satu kawanku Edwin menunggu di kosannya di Cianjur. Kami akan bermalam dulu di tempat kost Edwin, dan barulah besok harinya kami bertiga akan mendaki Gunung Gede melaui jalur Cibodas. 

Karena kami tau ini adalah akhir pekan, yang pastinya pengunjung akan ramai, maka kami pun berangkat lebih cepat agar bisa mengurusi simaksi lebih awal. Pagi hari, saat matahari belum menampakkan diri sepenuhnya, kami sudah bergegas menuju Cibodas untuk mengurusi simaksi. Cuaca dingin menyambut kami bertiga di sana. Cibodas memang terkenal dengan cuacanya yang dingin. Aku yang terbiasa hidup di Bekasi dengan cuaca panasnya yang pool, sedikit merasakan perbedaan iklim dari panas ke dingin. Untungnya sebelum aku mulai merantau di Bekasi, di kampung halamanku cuacanya tidak jauh dari Cibodas, jadi ragaku tidak terlalu kaget. Cuaca yang dingin memang selalu membuat lapar, aku yang dari sejak bangun tidur belum sempat sarapan, akhirnya mengunjungi warung-warung yang berjejer di sepanjang jalan untuk sarapan dan minum kopi. 


6 jam

Sepeda motor yang masing-masing kami bawa, di parkir di tempat yang disediakan. Kami langsung masuk ke kantor pendaftaran untuk konfirmasi lagi. Di sini aku dan kedua kawanku di periksa kembali perihal kondisi fisik. Karena untuk bisa mendaki sebuah Gunung memang diharuskan sedang dalam kondisi fit agar menghindari hal yang tidak diinginkan saat pendakian. Untuk pengecekan kesehatan ini, per orang dikenakan biaya Rp. 25.000. Setelah mengurus selesai, kami pun lagsung tracking menuju pos 1. Sebelum melakukan pendakian, agar kami teteap diberikan kelancaran, berdoa pun kami panjatkan.

Seperti peraturan yang sudah tidak asing lagi di setiap pendakian gunung, pendaki dilarang untuk membawa tisu basah dan juga sabun atau pasta gigi. Tujuannya untuk menjaga ekosistem tetap baik. Dan juga yang paling utama adalah dilarang untuk membuang sampah sembarangan. Di pos 1, petugas mengecek barang bawaan kami, dan memberi tahu barang apa saja yang boleh dibawa dan tidak. Selain itu, mereka juga menjelaskan tentang jalur pendakian. Aku sebenarnya lupa ada berapa pos yang akan aku lewati uuntuk sampai di puncak. 5 atau 6, aku benar-benar lupa. 

Cuaca yang tidak sepenuhnya panas, sempat bebrapa kali turun hujan. Aku yang khawatir akan kamera yang terkena air hujan langsung memakai jas hujan dan juga memasang rain coat di tas dan juga tas kamera. Di setiap kali pendakian dianjurkan untuk selalu membawa ponco atau jas hujan ya. Karena cuaca sekarang kan tau sendiri susah ditebak, meskipun awalnya panas cerah, bisa jadi pada sore hari malah turun hujan.

Diantara kedua kawanku, aku adalah yang paling minim pengalaman dengan jalur Gunung Gede, mereka berdua sudah beberapa kali naik turun gunung ini. Bahkan tidak hanya jalur Cibodas saja yang pernah mereka rasakan, namun jalur lain seperti jalur gunung Putri pernah mereka berdua coba. Maka dari itu, saat pendakian ini mereka seperti sudah tidak asing lagi dengan jalur pendakian via Cibodas.

Di sela-sela perjalanan akan ada beberapa spot yang menurutku bagus. Seperti di Telaga Biru. Sesekali kami bergantian untuk mengabadikan momen pendakian ini. Karena tujuan lain mendaki selain untuk menikmati alam ya apalagi kalo bukan untuk mendapatkan foto yang bagus. Aku rasa kebanyakan pendaki lain di luar sana pun setuju dengan ini. Dengan catatan foto ini tidak digunakan untuk pamer hanya untuk dibuat kenang-kenangan saja. 

Salah satu kawanku yang seharusnya sekarang ikut mendaki tapi tidak jadi, Dimas, ketika mendaki Ciremai pernah bilang bahwa daripada mengabadikan foto lebih baik bikin video. Karena dengan video kenangan yang pernah dilakukan sebelumnya akan terlihat lebih nyata, maka dari itu ketika mendaki Gede, Edwin dan juga Agung bergantian untuk merekam perjalanan.

Meskipun gunung Gede memiliki ketinggian di bawah Gunung Ciremai, namun aku merasakan sangat lelah sekali ketika mendaki. Entah karena apa, padahal makan udah, fisik juga lagi fit. Begitu juga dengan apa yang dirasakan oleh kawanku, rasanya capek banget.

Sesekali kami berhenti untuk sekadar minum ataupun memakan makanan ringan. Karena banyak berhenti di trek, akhirnya kami sampai di tempat camp tepatnya di pos 5 atau pos 6 gitu, aku lupa. Pos 5 ini menjadi tempat untuk para pendaki mendirikan tenda. Nama tempat ini biasa disebut Kandang Badak. Jika dihitung berapa lama kami bertiga berhasil sampai di tempat camp, kuang lebih ada 6 jam perjalanan. Mulai Treking jam 7 dan sampai pos terakhir sekitar jam 1 siang.

Camp di Kandang Badak

Di Kandang Badak ini memiliki fasilitas yang lumayan juga. Di sini sudah tersedia kamar mandi, toilet dan juga musolla. Namanya juga di puncak gunung ya, air di sini benar-benar dingin banget. Kalo gak salah di sini juga ada warung yang menjual makanan. Salut sih buat para pedagang yang ada di gunung, mereka rela naik turun gunung yang tentunya membutuhkan banyak tenaga dan waktu untuk mendapatkan rupiah. Suasana di sini cukup ramai, sampai-sampai kami hampir tidak kebagian tempat untuk mendirikan tenda. Entah karena apa tempat ini dinamakan kandang badak, aku belum pernah mencoba mencari tahu alasannya. Mungkin nanti aku akan mencoba mencari tau.

Kami hanya membawa 1 tenda saja yang bisa digunakan untuk bertiga. Setelah selesai mendirikan tenda, kami langsung memasukkan barang yang kami bawa dan mulai menatanya di dalam tenda. Selanjutnya kami mulai memasak nasi dan juga yang lainnya untuk menghilangkan rasa lapar yang sudah menyerang kami dari sejak sampai di Kandang Badak. Rencananya kami akan bermalam di sini dan besok pagi sebelum matahari terbit, aku akan mendaki lagi menuju puncak Gede sambil menikmati sunrise.

Sore hari setelah selesai istirahat, makan dan juga salat, aku menikmati berakhirnya hari sambil meminum kopi yang sebelum pendakian kami bawa untuk bisa difoto di Gunung. Kopi ini adalah Kopi Dulur, salah satu produk kopi khas dari Cianjur. Salah satu kawanku yang juga memiliki hubungan dekat dengan sang pemilik produk kopi ini memintaku untuk memotret kopinya di Gunung Gede.

Aku mencoba terus mengubah posisi pemngambilan gambar agar foto terlihat bagus, sampai akhirnya tak terasa sudah berapa jepretan yang sudah ku buat, sampai-sampai aku juga menyadari bahwa hari sudah mulai gelap. Aku membereskan semuanya dan mulai memasuki tenda. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang akan kami gunakna full untuk beristirahat sebelum besok mulai mendaki lagi. Tidak ada rencana apapun untuk malam ini. 

Puncak Gede

Udara yang dingin seakan menjadi alarm untuk membangunkanku. Pagi-pagi buta masih gelap, sekitar jam 3, aku bergegas bangun dan bersiap-siap untuk summit attaack. Barang bawaan kami biarkan di tenda, tidak dibawa ke atas. Hanya barang-barang yan penting saja yang kami bawa seperti peralatan masak dan juga bahan masakannya, kopi, mug, dan peralatan lain yang dikira penting. Carrier pun hanya dibawa satu saja, yaitu punyaku, sisanya ditinggal di tenda. Sekarang aku akan menuju puncak Gede sebelum matahari terbit. Tujuannya sih agar nanti bisa menyaksikan keindahan terbitnya matahari dari puncak.

Jalur yang gelap gulita tanpa cahaya, yang ada hanyalah cahaya dari senter yang kami bawa dan juga flash hp untuk menerangi jalan yang dilalui. Tak lupa kami gunakan juga pakaian yang lumayan bisa menahan hawa dingin, seperti jaket dan juga sarung tangan. Di jalur pendakian, tidak hanya ada kami saja tentunya ada pendaki lain juga yang ingin menuju puncak. Terlihat dari kejauhan cahaya senter yang menyala berjajaran. Dari atas sini, terlihat juga banyak lampu di bawah, seperti kunang-kunang yang banyak. Sepertinya itu pemukiman warga sekitar yang terlihat dari atas sini.

Trek yang kami lalui adalah naik terus tanpa henti. Karena itu, sesekali  berhenti untuk menarik napas dan juga minum air. Perjalanan dari Kandang Badak menuju puncak kurang lebih memakan waktu sekitar 1,5 jam. Ketika matahari masih malu untuk menampakkan dirinya, kami sudah sampai di atas, dan akhirnya  bisa melihat proses keluarnya sang mentari.

Aku yang jarang sekali mendapat momen seperti ini, langsung mengambil kamera untuk mengabadikan momen indah ini. Di puncak memang benar-benar ramai. Jadi agak susah untuk berfoto bersama, karena selalu ada orang lain yang lewat. Karena ingin punya foto bertiga, aku menyuruh salah satu pendaki untuk memotret kami bertiga.
Edwin, Agung dan Aku

Yang unik dari Puncak ini adalah adanya tukang gorengan yang jualan di atas. Harga satuannya Rp. 2.000. Namun gorengan di puncak Gede beda dengan di warung atau warkop yang panasnya awet, gorengan di sini cepat banget dingin karena cuaca di puncak yang memnag sangat dingin. Jadi kalo mau yang masih anget harus yang baru banget diangkat dari penggorengan. Ada juga yang menjual buah semangka. Seger banget makan semangka di puncak, gak usah dimasukkin ke kulkas dulu, udah dingin.

Alun-alun Suryakencana

Oh rupanya aku baru sadar kenapa saat di puncak jadi rame banget. Itu karena puncak dikinjungi oleh dua tempat camp berbeda, dari kandang badak dan juga yang camp di Alun-alun Suryakencana atau Surken. Untuk yang mendaki via Cibodas, tidak akan melewati Surya Kencana karena beda jalur, jika ingin melewati jalur ini maka harus menggunakan jalur Putri.

Setelah puas mengambil foto di Puncak Gede, aku dan kedua kawanku turun ke bawah menuju Alun-alun Suryakencana. Aku akan menyesal sekali jika tidak ke tempat ini. Selain di puncak, menurutku Surken adalah tempat terbaik untuk hunting foto. Semoga aja lain kali aku bisa merasakan kenikmatan camp di surken. Waktu yang dibutuhkan dari puncak ke Surken sekitar 15-25 menit saja.

Alun-alun Suryakencana adalah padang sabana terbesar di Indonesia dengan luar 50 hektare. Di sini juga terbanyak hamparan bunge Edelweis yang tak terhitung berapa banyaknya. Bunga Edelweis yang disebut juga sebagai bunga abadi tumbuh subur di sini. Banyak sekali orang-orang di foto dengan latar belakang Edelweis. Tapi bunga ini tidak boleh dipetik ya, biarkan dia tumbuh abadi di sini. Jika ada yang memetik bunga Edelweis maka akan dikenakan sanksi. Ini tidak berlaku di Gede saja, di gunung manapun sama. 

Di sini banyak terdapat tenda-tenda pendaki dengan warna bervariasi yang menghiasi pemandangan Alun-alun Suryakencana. Tak lupa aku mengabadikan kunjungan ke surken ini. Seperti biasa kami bergantian berpose untuk difoto. 

Setelah puas difoto, kami mencari tempat yang nyaman untuk memasak makanan. Dikeluarkanlah semua barang bawaan yan tadi pagi dibawa dalam tas. Dan akhirnya kami masak dan makan di sini. Air di sini pun jernih mengalir, jadi jangan khawatir jika kehabisan air minum.  Sebagai penutup, terakhir kami menikmati kopi dulu sebelum akhirnya kembali ke tempat berkemah di kandang badak.

Turun cuma 2,5 jam

Setiap kali mendaki gunung, aku dan kawan-kawanku selalu membiasakan membawa plastik sampah dari rumah untuk mengumpulkan sampah dan dibawa turun ke bawah. Selanjutnya diserahkan kepada panitia. Kan pasti banyak tuh sampah bekas kami masak dan makan saat berkemah, jadi dikumpulkan.

Sekitar jam 12 siang, setelah semua perlatan yang kami bawa di packing kembali, kami memutuskan untuk turun gunung. Kami hanya menginap satu malam saja di atas. Tidak ingin turun terlalu sore, makanya jam 12 adalah waktu yang tepat. Harusnya jam-jam segitu cuaca lagi panas-panasnya. Namun cuaca yang sedikit mendung membuat panasnya matahari tidak terlalu terik. 

Di tengah jalan kami banyak berpapasan dengan pendaki lain yang mungkin baru mau naik. Tak jarang juga aku ketemu dengan pendaki yang cakep-cakep juga saat di trek. Biasanya pendaki cewek begini yang membuat pendakian tidak ada capeknya haha

Belum sampai setengah jam kami berjalan turun, hujan mulai turun. Tidak terlalu deras, levelnya di atas gerimis. Aku langsung memakai ponco dan mengamankan tas kamera. Dari sinilah, langkah kami tak pernah berhenti. Saat turun berbeda banget dengan saat naik, kami bisa turun dengan cepat dan tanpa merasakan lelah sama sekali, sepertinya. 

Puluhan orang tersalip oleh kami bertiga langkahnya. Aku juga heran kenapa bisa seperti ini, cepet banget. Waktu turun ini jika dihitung hanya memakan waktu 2.5 jam. Berbeda jauh dengan saat naik gunung. Langkah yang kami gunakan adalah setengah lari bukan jalan biasa, makanya turunnya terasa cepat. Ditambah sedikit huja, membuatku hampir tidak merasakan capek sama sekali. Hanya saja jalanan yang sedikit licin karena air hujan. Sekitar jam setengah 3 sore, kami sudah sampai di pos 1. Salah satu kawanku menyerahkan sampah yan kami bawa sekaligus laporan bahwa kami sudah turun ke bawah lagi. Baju yang kami kenakan sedikit basah karena dari tadi terus melawan hujan. Kalo Sepatu gak usah ditanya lagi, basah kuyup abis.

Terima Kasih Kawan

Sebuah pengalaman yang mengesankan sekali bisa sampai di puncak Gunung Gede. Tanpa kedua kawanku ini, mungkin sampai sekarang aku gak bakal tau gimana rasanya bisa melihat Puncak Gede dari dekat, gak bisa merasakan nikmatnya minum kopi di Alun-alun Suryakencana dan juga mendapatkan banyak foto-foto bagus yang bisa aku simpan sebagai kenangan. Terima kasih sekali lagi.

Setelah pendakian terakhir ke Gunung Gede ini, hingga tulisan ini dibuat, aku belum pernah mendaki gunung lagi. Sebenarnya rencana untuk mendaki lagi sudah ada, tapi apalah daya pandemi keburu melanda. Tapi sekarang Gunung Gede udah buka, udah lama juga gak mendaki lagi, nanjak lagi gak nih?

Related Posts
Dede Sandi Rahmat
Menuangkan apa saja yang ingin dituangkan ke dalam tulisan

Related Posts

8 comments

  1. baru sadar ternyata tulisannya dibikin beberapa halaman

    aku salaf fokus tuh sama botol kopi dulurnya...mirip botol whiskey hehehe

    yang paling bagus pemandangan di alun alun suryakencana dengan hamparan edelweisnya

    naik gunung rame rame terasa seru ya, mumpung masih muda, kongko bareng konco koco...walau salah satu ga jadi ikut karena alasan pekerjaan..

    aku sih pernah lewat gunung gede pangrangi...tapi ga naik gunung, cuma itu pas kuliah dan cuma sewa villa aja karena perpisahan kelas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya karena tulisannya lumayan panjang, jadi biar gak terlalu banyak scroll jadi dibikin page.
      Unik kan ya kemasannya? haha

      Wah surken emang menjadi primadona di Gunung Gede

      Delete
  2. Serunya!
    Baca tulisan Kang Dede bikin memoriku balik ke masa-masa naik gunung juga.
    Capek tapi berkesan. Duh, jadi kangen ke gunung.

    Tapi kalo Gunung Gede, aku belum pernah. Seringnya denger cerita temen-temen soal Gunung Gede. Kayaknya bisa nih masukin wishlist.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mumpung sudah dibuka kembali, gak ada salahnya untuk mecoba ke sini, kak

      Delete
  3. Seru banget bacanya, seperti ikutan naik gunung gede pangrango juga.

    Aku belum pernah naik gunung kang, paling hanya di bukit saja, maklum jarang temanku yang hobi naik gunung.

    Pemandangan nya indah dan bagus sekali, apalagi yang pas matahari terbit. Ternyata ramai sekali di puncak, ada ratusan tenda

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nyobain dong sekali naik gunung, nanti pasti keterusan pengen naik lagi. Gunung Gede memang selalu ramai oelh pendaki. Kalo kata orang sih udah kaya di pasar hehe

      Delete
  4. Wah seru banget bisa naik gunung gede...masa pandemi gini memang sepi semua pariwisata ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya pada tutup semua awalnya. Tapi sepertinya awal tahun ini udah ada titik terang. Perlahan beberapa jalur pendakian sudah buka kembali. Termasuk gunung Gede ini

      Delete