Followers

bqiqdHcLSyDe1e7rIy6MJVhY5drRA6OxKKstSzTb

Lensa Yang Bikin Ribet Tapi Seru

Lensa Yang Bikin Ribet Tapi Seru

"Jika ada yang mudah, kenapa harus yang susah?"

Mungkin itu adalah ungkapan yang tepat dilontarkan kepadaku dua tahun yang lalu. Di era digital yang super cepat perkembangannya ini, masih saja ada orang yang ingin mempersulit dirinya sendiri. Sudah ada banyak lensa kamera dengan fokus otomatis, tapi malah pilih menggunakan yang masih manual. Ketinggalan jaman sekali.

Dua tahun sudah, hari-hari memotretku ditemani dengan sebuah lensa fix 50mm yang full manual. Mulai dari mengatur segitiga eksposur sampai dengan fokusnya, semuanya full manual. Dua tahun yang lalu juga, aku memutuskan untuk meminang lensa manual ini dari tangan pemilik sebelumnya. Dengan adanya market place, aku tidak  terlalu kesulitan untuk mendapatkan lensa manual, karena banyak tersedia di berbagai market place. 

Belajar mode Manual

Alasan utama aku menggunkan lensa manual ini tidak lain adalah untuk belajar lebih dalam lagi tentang penggunaan mode manual di kamera digital. Aku ingin terbiasa menggunkaan mode manual untuk mendapatkan sebuah foto, meskipun sebenarnya menggunakan mode otomatis/auto hasilnya bisa lebih baik, lebih cepat, dan juga mungkin lebih bagus. Tapi aku "keukeuh" ingin menggunkaan yang manual.

Sebelum aku pergi mendaki ke Gunung Gede, beberapa hari sebelum keberangkatan, lensa ini sudah ada di tanganku. Rencananya akan aku bawa juga saat pendakian ke Gunung Gede untuk mengabadikan momen di sana.

Aku membeli lensa yang mungkin bisa dibilang adalah lensa legend dari Nikon ini melalui Bukalapak. Bukan lensa baru, tapi lensa bekas yang menurutku masih oke untuk digunakan. Sebelumnya aku sempat bingung juga mau beli lensa yang mana. Akhirnya aku membuat list spesifikasi untuk lensa yang akan aku beli. 

Hal pertama yang aku perhatikan adalah lensanya adalah lensa Fix atau lensa yang tidak bisa zoom in ataupun zoom out, jadi lensanya udah segitu-gitu aja. Selanjutnya aku memilih focal length lensa yang berukuran 50mm. Nantinya lensa ini akan aku gunakan untuk motret orang jadi cocok lah kayaknya dengan 50mm ini. 

Selain itu, aku juga sempat dibikin dilema lagi saat memilih diafragma atau bukaan lensa yang akan aku beli. Antara f 1.8 atau f1.4. Karena menurutku jika menggunakan bukaan lensa yang lebih besar akan membuat foto semakin fokus dan terlihat bokeh, maka aku akhirnya memilih yang memiliki bukaan lensa 1.4. Dan akhirnya pilihanku jatuh kepada lensa Nikon 50mm f 1.4 ini.

Merasa Tertipu

Saat lensa ini sampai ke tanganku dengan selamat, aku langsung mencobanya dong. Awalnya aku merasa tertipu dengan membeli lensa ini. Saat aku pasang lensa ke body kamera, ternyata lensa tidak bisa digunakan. Keterangan di layar kamera "lensa tidak dipasang", padahal lensa sudah terpasang dengan benar. Aku yang baru pertama kali menggunakan lensa fix kala itu dibuat kebingungan dengan cara menggunakan lensa ini. Akhirnya aku tanya kembali kepada penjual tentang lensa yang tidak bisa aku gunakna ini.

"Mas, ini lensanya tidak bisa digunakan"

"Bisa, lensa itu masuk di semua body kamera Nikon, mas"

"Tapi ini dari tadi tidak bisa terus, bagaimana?"

"Itu kan lensa manual, jadi coba atur mode kamera di mode manual (M)"

aku pun langsung mengikuti saran dari penjual tersebut. Pertama aku putar terlebih dahulu mode kamera menjadi mode M (manual). Setelah diubah, ternyata tulisan "lensa tidak dipasang" langsung hilang dan lensa bisa digunakan. Ah dasar aku..

Singkat cerita lensa inipun selalu aku jadikan andalan kala aku memotret dimanapun. Baik itu hunting foto bareng kawan-kawan ataupun sekedar foto diecast Hot wheels koleksiku. Setelah beberapa tahun aku selalu menggunakan lensa ini, sepertinya sekarang aku harus memindah tangankan lensa ini. Dulu kan saat pertama membeli lensa ini, tujuan utamaku adalah belajar mode manual di kamera digital, dan menurutku sekarang aku sudah sedikit bisa dengan mode manual ini. Jadi aku pikir sekarang afdalah saatnya harus mengganti lensa ke yang lebih baru lagi. 

Sebelum aku menjual lensa ini, aku akan sedikit berbagi cara bagaimana cara menggunakan lensa manual seperti ni. Meskipun jika kamu berbeda jenis kamera, tapi basic penggunaannya tetap sama.

Cara Mudah atur Fokus dengan Lensa Manual

Berikut adalah cara mudah yang biasa aku lakukan untuk mengatur fokus dengan lensa manual.

1. Gunakan Layar Kamera

Untuk mendapatkan kemudahan dalam mengatur fokus, kamu harus menggunakan layar yang ada di kamera untuk membidik objek. Jangan menggunakan view finder karena akan sedikit susah mengatur fokusnya. Selain itu, jika menggunakan view finder, objek yang awalnya terlihat sudah fokus kadang nanti hasil fotonya akan menjadi tidak fokus ternyata.

2. Atur Posisi objek dengan kamera

Langkah selanjutnya, kamu harus mengatur posisi objek yang akan kamu ambil fotonya. Karena menggunkana lensa fix, atau lensa dengan focal length tetap, jadi untuk mengatur posisi objek menjadi dekat atau jauh, makan kamu harus maju untuk mendekati objek dan juga mundur untuk menjauhi objek. 

Setelah langkah pertama tadi, selanjutnya kamu hanya perlu mengatur posisi objek mau ada di mana di layar kamera. Objek mau terlihat lebih dekat atau lebih jauh, objek mau berada di kiri, kanan ataupun di tengah, sebaiknya tentukan dulu.

3. Manfaatkan Fitur Zoom in & Zoom out

Langkah 1 dan 2 sudah diterapkan, selanjutnya lakukan langkah ketiga. Setelah berhasil memposisikan objek sesuai dengan yang diinginkan, kamu hanya perlu menekan tombol "zoom in" di kamera yang guannya untuk memperdekat objek. Tombol zoom in ini bukan berfungsi membuat foto terlihat semakin dekat, namun hanya untuk preview saja agar mengatur fokus jadi lebih mudah nantinya. 

Setelah menekan tombol zoom in secara maksimal, arahkan kotak merah ke objek yang akan difokuskan. Jika kamu memotret orang, maka arahkan kotak merah ke wajah objek.

Agar posisi objek dan kamera yang sudah diatur tadi tidak berubah, diusahan saat mengatur zoom in ini, tangan kamu tidak terlalu banyak bergerak. Nantinya jika terlalu banyak bergerak, maka posisi objek yang tadi diatur akan sedikit berbeda karena posisi kamera yang berubah.

4. Mulailah Mengatur Fokus

Langkah terkahir adalah kamu hanya perlu memutar ring fokus yang ada pada lensa. Dari layar kamera, setelah di zoom in di bagian objek, saat kamu memutar fokus lensa, nanti akan terlihat bahwa foto sudah fokus atau belum. Jika dirasa sudah terlihat jelas atau sudah fokus, maka kamu hanya perlu menekan tombol shutter untuk mulai memotretnya.

Nah, mungkin itu saja tips yang bisa aku bagikan tentang cara mengatur fokus dengan lensa manual. Semoaga mudah dipahami ya tutorialnya.

Lensa ini dijual!

Sebagaimana yang telah aku ceritakan di atas, bahwa aku akan menjual lensa yang bikin ribet tapi seru ini. Setelah dua tahun belajar memahami lensa manual ini, akhirnya aku sekarang sudah ada sedikit gambaran tentang penggunaan mode manual di kamera digital. Maka dari itu, dengan kondisi lensa yang masih oke dan tentunya bebas jamur, aku memutuskan untuk menjual lensa ini. Untuk kawan-kawan blogger yang mungkin berminat dengan lensaku ini, bisa mengecek kondisi lensa maupun harga melalui Bukalapak.

Bonus!

Meskipun lensa yang aku gunakan adalah manual, dan untuk menggunakannya cukup membuat otak harus bekerja lebih cepat karena mengejar momen, tapi lensa ini memang bukan main hasilnya. Berikut adalah beberapa foto yang tercipta dari Lensa manual ini.

Gambar Thumbnail: Pexels

Related Posts
Dede Sandi Rahmat
Menuangkan apa saja yang ingin dituangkan ke dalam tulisan

Related Posts

12 comments

  1. wah ilmu baru di bidang fotografi nih...

    setelan lensa manual ternyata cukup menguras pikiran juga ya..tapi kalau sudah terlatih niscaya hasil shootnyabakan tampak clear seperti halnya gambar diecast bus di atas.

    kalau aku jujur tidak jago main lensa... jadi aku beli kamera yang langsung otomatis ngejepret meski kalau mau atur atur setelan (yang aku sendiri ga gitu paham) itu bisa kalau belajar. kalau aku pakenya canon g7x mark II jadi ga akan ganti ganti lensa.

    tapi kalau yang minat fotografinya tinggi dan coba berbagai macam lensa itu seru juga ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamera prosummer kah itu? Kali prosummer atau kamera pocket biasanya tidak bisa ganti lensa.

      Seru sih bisa ganti-gantikensa, tapi budgetnya juga lebih seru huhu..

      Delete
  2. Dari dulu suka lihat hasil2 fotografi yang bokeh2. Sangat ingin memiliki kamera buat foto2 begituan. Tapi sampai sekarang belom kesampean. Pengen eos m50 dari dulu, sampe sekarang yang mark ii sudah keluar, masih belum terwujud haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah eos m50 mirrorless yang Oke tuh buat ngevlog. Semoga cepet kesampean ya, mas

      Delete
  3. jd dijual lagi lensanya mas? emang ribet sih ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. jadi, mas. Ribet saat awal-awal aja, kalo udah terbiasa dan tau kuncinya pasti lebih mudah

      Delete
  4. Untung penggunanya anak muda. kalau nenek-nenek seperti saya, pasti urusan sulit bertambah bertambah rumit. Salam kenal Mas. Dede.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha gak gitu juga, mba. Emak-emak zaman sekarang pasti bisa kalo udah sekali coba.

      Salam kenal juga, mba

      Delete
  5. Lensa 50mm sementara ini masih dipakai Pak Suami, andalan juga. Hahaha...
    Suka sama ketajeman hasilnya, mau di pakai di kamera crop atau full frame tetep jago.

    ReplyDelete
  6. Jamannya selalu begini sih. Ada yg lebih canggih, slalu kembali ke yang jadul. Spti sstem digital, kembali lagi ke era analog. Termasuk kamera dan lensa. Pada dasarnya emang suka penasaran dan pengen belajar sesuatu yang baru terus.

    Analog emang menarik sih. Dulu pertama kali pegang kamera juga pake kamera kodak. Analog, masih pake film asa 200. Karena pakai film, ga boleh asal jepret. Mesti hemat film..hehhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emanh aneh sih jaman sekarang. di era kecanggihan seperti ini tidak hanya pengguna kamera aja yang banyak kembali ke versi lawas. Tapi saya akui emang seru sih kembali ke jaman analoh tuh. Saya juga punya analog tapi belum saya cetak hasil fotonya. tau bagus atau enggak tuh, atau kebakar semua hehe

      Nah itu dia yang bedain analog sama digital, mesti hati-hati banget saat ngambil foto karena jumlah film yg terbatas. Kalo kebanyakan jepret, stok roll film harus banyak yang otomatis budget juga harus dibanyakin

      Delete